- See more at: http://blog-rangga.blogspot.com/2013/01/cara-mengganti-icon-kursor-blog-dengan.html#sthash.p3gHS2mE.dpuf

Rabu, 22 Agustus 2012

Semiliar Cinta Untuk Ayah :*


Aku baru saja melihat dan membaca sebuah kumpulan cerpen berbentuk novel yang dipegang temanku. Semiliar cinta untuk Ayah. Melihatnya membuatku tertarik untuk membaca.
          Tanpa membacanya aku sudah ingat sama Ayah ku yang sudah pergi jauh meninggalkan aku. Saat membacanya membuatku semakin ingat dan selalu ingat sama Ayah ku. Buku itu membuatku bertanya-tanya, Ayahku memiliki sifat seperti apa dan bagaimana perangai Ayah sebelum aku berada didunia ini.
Apakah Beliau menginginkan kehadiranku atau tidak menginginkan aku? Apakah Beliau sayang aku setelah aku lahir kedunia ini? Apa Beliau masih ingat aku saat aku jauh darinya? Apa Beliau mennyebut  namaku dalam setiap doanya? Apa Beliau ingat aku saat  terakhir hidupnya? Dan apakah Beliau membutuhkan aku saat Beliau hidup dan saat Beliau tiada???
Sejujurnya,, aku tak mampu untuk menjawab semua itu seorang diri. Aku butuh Ayah untuk menjawabnya. Namun tak mungkin Ayah dapat menjawab semuanya sekarang. Ayah telah tiada. Beliau meninggalkanku tanpa menjawab semua pertanyaanku itu.
Novel yang aku baca berisi tentang berbagai macam sifat seorang Ayah kepada setiap anaknya. Aku setuju saat membaca kata pengantar novel tersebut yang mengatakan bahwa” Rasulullah memang hanya menyebutkan satu kalinama Ayah ketika seorang pemuda bertanya tentang orang yang harus dihormati. Namun, peran Ayah tetaplah besar dalam sebuah keluarga. Orang yang mencari nafkah dan mendidik kita sejak kecil adalah Ayah kita.
Tiap keluarga memiliki tipe Ayah yang berbeda, ada yang romantis, pendiam, ataupun tegas kepada anak-anaknya. Tetapi, berbagai tipe yang berbeda itu hanyalah dilatarbelakangi kehidupan mereka sebelumnya. Dengan tipe yang berbeda pula, mereka tetaplah Ayah kita, bapak kita yang menyayangi dengan sepenuh hati anak-anak mereka, kita.
Masihkah kita menganggap Ayah kita hanyalah lelaki tua yang kini telah berkurang kegagahannya? Semiliar Cinta untuk Ayah mungkin tak mampu membalas kasih sayang yang tak terhingga dari kita, anak-anaknya.”
Seringkali kita lupa siapa ‘Ayah’ sebenarnya. Kesan keras, pemarah, tak peduli adalah stigma yang melekat. Dibalik sosok keras, ternyata Ayah membentuk karakter. Mewariskan kebaikan yang tidak dapat dilakukan kaum Ibu. Ayah yang paling kasar sekalipun, menyisakan ruang kecil dalam hatinya, demikianlah cinta yang begitu sulit diungkapkan.
Aku rindu Ayah. Aku kangen Ayah. Aku butuh Ayah. Aku sayang ayah. Aku ingin ayah. Aku cinta Ayah. Dan aku anak Ayah.
Ayahku adalah tipe seorang ayah yang sangat sulit ditebak. Aku tak tahu kapan saat ayah senang, marah, sedih atau bahkan saat butuh aku. Aku tak tahu semua tentang ayah. Tapi Ayah tahu semua tentang aku. Aku sayang Ayah.
Aku bukanlah anak gadis yang selalu mendapat kasih sayang dari ayah. Saat aku masih kecil - kelas 3 SD - dan tak tahu apa-apa, ayah dan Bunda cerai. Aku tak mendapatkan sepenuhnya kasih sayang dari Ayah. Karena, aku harus berbagi dengan kakak – dari ibu tiriku – dan kami tak pernah tinggal satu rumah lagi saat mereka memutuskan untuk berpisah.
Setelah kejadian itu, saat-saat aku kumpul dengan Ayah dapat dihitung dengan jari. Bunda tak pernah mengijinkanku untuk pergi menemui Ayah. Akhirnya aku kucing-kucingan dengan Bunda saat akan menemui Ayah. L
Ayah hanya bisa menemuiku saat aku sekolah. Ayah selalu meluangkan waktunya untuk bertemu denganku. Meskipun hanya 20 menit, Ayah selalu berusaha memberikan waktunya untukku ditengah kesibukannya. I proud of you, Dad. And i’ll never forget you. U’ll always stay in my heart...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar