Aku
baru saja melihat dan membaca sebuah kumpulan cerpen berbentuk novel yang
dipegang temanku. Semiliar cinta untuk Ayah. Melihatnya membuatku tertarik
untuk membaca.
Tanpa membacanya aku sudah ingat sama
Ayah ku yang sudah pergi jauh meninggalkan aku. Saat membacanya membuatku semakin
ingat dan selalu ingat sama Ayah ku. Buku itu membuatku bertanya-tanya, Ayahku
memiliki sifat seperti apa dan bagaimana perangai Ayah sebelum aku berada
didunia ini.
Apakah Beliau menginginkan kehadiranku
atau tidak menginginkan aku? Apakah Beliau sayang aku setelah aku lahir kedunia
ini? Apa Beliau masih ingat aku saat aku jauh darinya? Apa Beliau mennyebut namaku dalam setiap doanya? Apa Beliau ingat
aku saat terakhir hidupnya? Dan apakah
Beliau membutuhkan aku saat Beliau hidup dan saat Beliau tiada???
Sejujurnya,, aku tak mampu untuk menjawab
semua itu seorang diri. Aku butuh Ayah untuk menjawabnya. Namun tak mungkin
Ayah dapat menjawab semuanya sekarang. Ayah telah tiada. Beliau meninggalkanku
tanpa menjawab semua pertanyaanku itu.
Novel yang aku baca berisi tentang
berbagai macam sifat seorang Ayah kepada setiap anaknya. Aku setuju saat
membaca kata pengantar novel tersebut yang mengatakan bahwa” Rasulullah memang
hanya menyebutkan satu kalinama Ayah ketika seorang pemuda bertanya tentang orang
yang harus dihormati. Namun, peran Ayah tetaplah besar dalam sebuah keluarga.
Orang yang mencari nafkah dan mendidik kita sejak kecil adalah Ayah kita.
Tiap keluarga memiliki tipe Ayah yang
berbeda, ada yang romantis, pendiam, ataupun tegas kepada anak-anaknya. Tetapi,
berbagai tipe yang berbeda itu hanyalah dilatarbelakangi kehidupan mereka
sebelumnya. Dengan tipe yang berbeda pula, mereka tetaplah Ayah kita, bapak
kita yang menyayangi dengan sepenuh hati anak-anak mereka, kita.
Masihkah kita menganggap Ayah kita
hanyalah lelaki tua yang kini telah berkurang kegagahannya? Semiliar Cinta
untuk Ayah mungkin tak mampu membalas kasih sayang yang tak terhingga dari
kita, anak-anaknya.”
Seringkali kita lupa siapa ‘Ayah’
sebenarnya. Kesan keras, pemarah, tak peduli adalah stigma yang melekat.
Dibalik sosok keras, ternyata Ayah membentuk karakter. Mewariskan kebaikan yang
tidak dapat dilakukan kaum Ibu. Ayah yang paling kasar sekalipun, menyisakan
ruang kecil dalam hatinya, demikianlah cinta yang begitu sulit diungkapkan.
Aku rindu Ayah. Aku kangen Ayah. Aku butuh
Ayah. Aku sayang ayah. Aku ingin ayah. Aku cinta Ayah. Dan aku anak Ayah.
Ayahku adalah tipe seorang ayah yang
sangat sulit ditebak. Aku tak tahu kapan saat ayah senang, marah, sedih atau bahkan
saat butuh aku. Aku tak tahu semua tentang ayah. Tapi Ayah tahu semua tentang
aku. Aku sayang Ayah.
Aku bukanlah anak gadis yang selalu
mendapat kasih sayang dari ayah. Saat aku masih kecil - kelas 3 SD - dan tak tahu
apa-apa, ayah dan Bunda cerai. Aku tak mendapatkan sepenuhnya kasih sayang dari
Ayah. Karena, aku harus berbagi dengan kakak – dari ibu tiriku – dan kami tak
pernah tinggal satu rumah lagi saat mereka memutuskan untuk berpisah.
Setelah kejadian itu, saat-saat aku kumpul
dengan Ayah dapat dihitung dengan jari. Bunda tak pernah mengijinkanku untuk
pergi menemui Ayah. Akhirnya aku kucing-kucingan dengan Bunda saat akan menemui
Ayah. L
Ayah hanya bisa menemuiku saat aku
sekolah. Ayah selalu meluangkan waktunya untuk bertemu denganku. Meskipun hanya
20 menit, Ayah selalu berusaha memberikan waktunya untukku ditengah
kesibukannya. I proud of you, Dad. And i’ll never forget you. U’ll always stay
in my heart...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar